BAB 1
ALQUR’AN, WAHYU, DAN ILHAM
A.
Pengertian
1.
Al
– Qur’an
Menurut bahasa (etimologi), kata
al-Qur’an berarti bacaan atau yang dibaca. Menurut ahli bahasa alihyani lafadz
alqur’an adalah isim masdar dengan arti isim maf’ul yang berarti yang dibaca.
Menurut istilah Pengertian al-Qur’an
menurut istilah (termenologi) terdapat definisi yang berfariasi, para ulama’
berfariasi dalam merumuskan definisi al-Qur’an, antara lain
Menurut Syaikh Muhammad Khudari Beik, Al-Qur’an adalah
firman Allah yang berbahasa arab yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk
dipahami isinya dan diingat selalu, yang disampaikan kepada kita secara
mutawatir, yang sudah ditulis dalam mushaf dimulai dari surat al-Fatihah sampai
suratan-Nas
Menurut Syaikh Muhammad Abduh, Alkitab atau Al-qur’an
ialah bacaan yang telah tertulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga dalam
hafalan-hafalan umat islam.
1) Nama-nama
Al-Qur’an dan Sifatnya
a. Qur’an
¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 Ïf ãPuqø%r& çÅe³u;ãur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷èt ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZÎ6x. ÇÒÈ
“Sesungguhnya
Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi
khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar,”(Al-Isra:9)
b. Kitab
ôs)s9 !$uZø9tRr& öNä3ös9Î) $Y6»tGÅ2 ÏmÏù öNä.ãø.Ï ( xsùr& cqè=É)÷ès? ÇÊÉÈ
“Sesungguhnya
telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat
sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Al-Anbiya:10)
c. Furqan
x8u$t6s? Ï%©!$# tA¨tR tb$s%öàÿø9$# 4n?tã ¾ÍnÏö6tã tbqä3uÏ9 úüÏJn=»yèù=Ï9 #·ÉtR ÇÊÈ
“Maha
suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar
Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”(Al-Furqon:1)
d. Dzikr
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ
“Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.”(Al-Hijr:9)
e. Tanzil
¼çm¯RÎ)ur ã@Í\tGs9 Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÒËÈ
“dan
Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.”(Asy-Syu’ara:192)
f. Shuhuf
×Aqßu z`ÏiB «!$# (#qè=÷Gt $ZÿçtྠZot£gsÜB ÇËÈ
“(yaitu)
seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan
(Al Quran).”(Al-Bayyinah:2)
2) Adapun
sifat-sifat alqur’an sebagai berikut:
a. Nur
(cahaya)
b. Huda
(petunjuk)
c. Syifa’
(obat)
d. d.
Rahmat
e. Mauidzah
(nasihat)
f. Mubin
(yang menerangkan)
g. Mubarak
(yang memberkati)
h. Aziz
(yang mulia)
i.
Majid(yang dihormati)
j.
Bashir (membawa kabar
gembira)
k. Nadzir
(pembawa peringatan)
3) Perbedaan
al-Qur’an dan Hadis
Qudsi
a. Al-Qur’an
bersifat menentang karena merupakan mu’jizat, sedangkan hadis qudsi tidak
bersifat menentang karena merupakan bukan mu’jizat
b. Seluruh
isi al-Qur’an dinukil secara mutawatir, sedangkan hadis Qudsi kebanyakan khobar
ahad sehingga kepastiannya merupakan dugaan
c. Al-Qur’an
makna dan lafadznya dari Allah, sedangkan hadis Qudsi maknanya dari Allah
lafalnya dari Rosul
d. Membaca
al-qur’an merupakan ibadah, sedangkan hadis Qudsi tidak disuruh membacanya
dalam sholat
4) Perbedaan
Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi
a. Kalau
hadis Qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari Rosul, sedangkan hadis Nabawi
makna dan lafalnya dari Rosul
b. Apabila
hadis Qudsi itu di dahului oleh lafadz
c. Sedangkan
hadis Nabawi tidak
d. Kedudukan
al-Qur’an dan Fungsinya
e. Al-Qur’an
diturunkan Allah sebagi pedoman hidup manusia, sehingga tercapai kehidupan
bahagia didunia dan selamat diakherat, al-Qur’an mempunyai kedudukan yang utama
sebagai sumber pokok ajaran islam. Sumber pokok ajaran islam lainnya tidak
boleh bertentangan dengan al-Qur’an. Firman Allah yang menentukan keharusan
berpegang teguh pada al-Qur’an antara lain:
f. Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai…… (al-Imran : 103)
g. Al-Qur’an
mempunyai beberapa fungsi, diantara lain:
h. Sebagai
hidayah atau petunjuk untuk manusia dalam menjalani hidupnya secara baik dan
sebagai rahmat bagi alam semesta
i.
Sebagai mukjizat
terbesar nabi Muhammad SAW
j.
Sebagai pemberi kata
putus terakhir yang benar, mengenai berbagai masalah yang diperselisihkan
dikalangan pimpinan-pimpinan agama
k. Sebagai
pengukuh dan penguat kebenaran adanya kitab-kitab suci yang penah diturunkan
sebelum al-qur’an dan kebenaran tentang adanya para nabi atau rasul serta kitab
sucinya masing-masing
l.
Sebagai penutup
wahyu-wahyu yang telah Allah turunkan kepada para nabi atau rasul.
2. Pengertian Wahyu
Menurut bahasa (lughah),
kata wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy yang memiliki beberapa arti, di
antaranya; suara, tulisan isyarat, bisikan, paham dan juga api. Ttp ada juga
yang mengartikan bisikan yang tersembunyi dan cepat. Dengan
demikian, pengertian wahyu secara etimologis adalah penyampaian
sabda tuhan kepada manusia piihan-nya tanpa diketahui orang lain , agar
diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan sebagai pegangan hidup baik di
dunia maupun di akhirat kelak.
Secara istilah wahyu adalah
pemberitahuan Allah SWT kepada hambanya yang terpilih mengenai segala sesuatu
yang ia kehendaki untuk dikemukakannya, baik berupa petunjuk atau ilmu, namun
penyampaiannya secara rahasia dan tersembunyi serta tidak terjadi pada manusia
biasa. Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara
syar’i definisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada
seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu almuha (yang
diwahyukan). Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut
Tauhid adalah pengetahuan yang didapati oleh seseorang dari dalam dirinya
dengan disertai keyakinan bahawa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui
perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam
telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beza antara wahyu dengan ilham adalah
bahawa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti
apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa
dengan perasaan lapar, haus, sedih, dan senang.
Definisi di atas adalah
definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bahagian awal definisi ini mengesankan
adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf, tetapi
pembezaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini. Sebagaimana
pengakuan al-Qur’an bahwa wahyu merupakan sebuah hakikat dan kebenaran dan
dalam beberapa ayat al-Qur’an hal tersebut dinisbahkan kepada Nabi saw. Akan
tetapi, al-Qur’an, dalam menjelaskan esensi wahyu, hanya sekedar mengisyaratkan
saja dan tidak memaparkan sedetail mungkin. Al-Qur’an menyatakan: “Dan
sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia
dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”
¼çm¯RÎ)ur ã@Í\tGs9 Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÒËÈ tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ 4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# ÇÊÒÍÈ
“dan
Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin
(Jibril), ke dalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi
peringatan,” (Qs.
asy-Syu’araa’:192-194).
a.
Sejarah Turunnya Wahyu
Masyarakat Indonesia sudah
menetapkan 17 Ramadhan, yakni peringatan Nuzulul Qur`an sebagai
hari besar Islam. Ini menjadi peringatan ulang tahun turunnya al-Qur`an, dan
peringatan ini sudah menjadi ketetapan nasiaonal yang selalu diperingati dan
menjadi hari libur dalam kalender nasional.
Ahli sejarah dalam hal ini,
yakni tentang persisnya tanggal awal mula turunnya al-Qur`anterdapat
keberagaman pandangan. Abu Ishak menyatakan bahwa al-Qur`an pertama sekali
turun tepatnya 17 Ramadhan. Ini berdasarkan pada beberapa indikasi yang
disinyalir al-Qur`an yang menggambarkan bahwa hari turunnya al-Qur`an itu sama
dengan peristiwa peperangan Badar yang diabadikan al-Qur`an dengan
julukan yaum al-furqan (hari yang membedakan Islam dan kafir)
dan yaum al-taqa al-jam’an (hari bertemu dua pasukan muslim
dan kafir). Dalam catatan sejarah perang Badar terjadi 17 Ramadhan, tepatnya
hari Jum’at.[1]
Ilmuan lainnya tidak
seperndapat dengan penetapan 17 Ramadhan sebagai tanggal turunnya al-Qur`an
pertama kali, karena berdasarkan QS. al-Qadr/97:1, al-Qur`an diturunkan pada
malam qadar. Ini didasari bahwa malam qadar jatuh
pada sepuluh malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan, yakni malam 21, 23, 25,
27, dan 29.[2]
Keberagaman pandangan
tentang awal proses turunnnya al-Qur`an tidak menafikan bahwa diturunkannya
al-Qur`an pada malam qadar di bulam Ramadhan.
Al-Qur`an kepada Nabi Muhammad
Saw. Dalam Surat an-Nisa`, 4: 105 Allah Swt berfirman:
!$¯RÎ) !$uZø9tRr& y7øs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3óstGÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# !$oÿÏ3 y71ur& ª!$# 4 wur `ä3s? tûüÏZͬ!$yù=Ïj9$VJÅÁyz ÇÊÉÎÈ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu
dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang
telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang
tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS. An-Nisa`,
4: 105).
Bahkan dalam beberapa ayat
lainnya terdapat kata-kata yang menunjuki tentang turunnya al-Qur`an.
Ada beberapa pendangan
ilmuan mengenai proses penurunan al-Qur`an kepada Nabi Muhammad Saw, yang
secara umum dapat dibedakan dalam tiga aliran besar besar, yaitu:
a. Aliran pertama. Al-Qur`an diturunkan sekaligus
(dari awal sampai akhir) ke langit pada malamqadar. Kemudian sesudah itu
diturunkan secara berangsur-angsur dalam tempo 20, 23 atau 25 tahun sesuai
dengan perbedaan pendapat di antara ilmuan.
b. Aliran kedua. Al-Qur`an diturunkan ke langit bagian
demi bagian dalam bentuk paket (tidak sekaligus) pada setiap malam qadar,
sesuai kebutuhan selama satu tahun, sampai datang malamqadar berikutnya.
c. Aliran ketiga. Al-Qur`an untuk pertama kali
diturunkan pada malam qadar sekaligus, darilauh
mahfudh ke bait al-‘izzah, kemudian diturunkan
sedikit demi sedikit dalam berbagai kesempatan sepanjang masa-masa kerasulan
Muhammad Saw.[3]
Az-Zarqani sebagaimana
dirujuk oleh M. Amin Suma menyebutkan proses penurunan al-Qur`an dalam tiga
tahapan, yaitu:
a.
Tahap
pertama. Al-Qur`an diturunkan Allah Swt ke lauh al-mahfudh. Ini
didasari pada QS. Al-Buruj/85: 22, yang artinya: “Bahkan yang
didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang (tersimpan) di Lauh
Mahfudh”.
b.
Tahap
kedua. Al-Qur`an diturunkan dari lauh mahfudh ke bait
al-‘izzah ke langit pada malam qadar. Ini sesuai
dengan QS. Al-Dukhan/44: 3, yang artinya: “sesungguhnya Kami
menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang
memberi peringatan”. dan QS. Al-Baqara/2: 185, juga beberapa hadits Nabi
Saw.
c.
Tahapan
ketiga. Al-Qur`an diturunkan dari bait al-‘izzah kepada Nabi
Saw dengan perantaraan Malaikat Jibril As. Ini berdasarkan QS. Al_Syu’ara/26:
193-194: “dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan”.[4]
Mengenai bagaimana proses
penerimaan al-Qur`an oleh Malaikat Jibril As para ilmuaan memiliki beberapa
pandangan, yakni:
a. Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah
Swt dengan lafadh-nya yang khusus;
b. Jibril menghafalnya dari lauh al-mahfudh;
c. Maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafadh-nya
dari Jibril, atau MuhammadSaw. Syekh Manna` al-Qaththan menyatakan bahwa
pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, dan ini menjadi
pegangan ahlussunnah wal jamaah,yang didasari pada hadits Nuwas bin
Sam’an.
Setelah Jibril menerima
wahyu (al-Qur`an) proses selanjutnya adalah menyampaikan kepada Nabi
Muhammad Saw. Syekh Manna` al-Qaththan menyimpulkan proses penyampaianal-Qur`an
kepada Nabi Saw dalam dua cara penyampaian, yaitu:
a. Jibril datang dengan suara seperti suara lonceng,
yaitu suara yang amat kuat yang dapat mempengaruhi kesadaran, sehingga ia
dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini adalah yang
paling berat bagi Rasul.
b. Jibril menjelma sebagai seorang laki-laki. Cara ini
lebih ringan dari pada cara sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara
pembicara dengan pendengar.[5]
Proses turunnya al-Qur`an
sebagaimana populer bahwa turun secara berangsur-angsur, tidak sekaligus, yang
dimulai di lokasi Makkah dan seterusnya di Madinah (pasca Makkah).[6]
Hal ini sesuai dengan perkembangan dan persoalan yang terjadi di kalangan
masyarakat Islam dalam berinteraksi secara intern dengan umat Islam sendiri,
begitu juga kasus-kasus yang berkaitan dengan non Muslim.
b.
Pemeliharaan Wahyu
Allah Swt dalam Surat
al-Hijr/15: 9 telah menyatakan bahwa ke-otentikan al-Qur`an dijamin oleh Allah,
dimana Allah menyatakan:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ
“Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. al-Hijr/15:9).
Pemeliharaan dalam tahapan secara umum adalah sebagai beikut:
a. Tahapan penghafalan
Pada tahapan awal dalam
pemeliharaan al-Qur`an dilakukan dengan hafadhahu(menghafalnya
dalam hati) oleh para jumma’ul Qur`an, yakni huffadhul
Qur`an (para pengahfalnya, yaitu orang-orang yang menghafalkannya
dalam hati. Rasulullah Saw amat menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu
penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya.[7] Tidak
ketinggalan dengan sahabat-sahabatnya yang selalu menerima pemberitaan wahyu
dari Nabi Saw. Mereka juga menghafalnya, dan terkenalnya tujuh huffadh
al-Qur`an terkenal yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari melalui tiga
jalur periwayatan. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil, Muadz
bin Jabal. Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu
Ad-Darda`.[8]
b. Tahapan pencatatan/penulisan
Rasulullah mengangkat para
penulis al-Qur`an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Mua’awiyah, Ubay
bin Ka’ab dan Zait bin Tsabit. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka
menuliskannya dan menunjukkannya dimana tempat ayat tersebut dalam surat.
Sebagian dari mereka juga menulisnya atas inisiatif sendiri dengan menggunakan
media pelepah korma, lempengan batu, papan titpis, kulit dan daun kayu, palana,
dan potongan tulang belulang binatang.
Tulisan-tulisan al-Qur`an
pada masa ini (masa Nabi) tidak terkumpul dalam satu mushaf.
Biasanya yang ada di tangan seorang sahabat, belum tentu dimiliki oleh yang
lain. Susunan ayat-ayat dan surat-surat dipisahkan. Setiap surat berada dalam
satu lembaran secara terpisah dan dalam tujuh huruf (sab’ah
ahruf), dan susunan penulisannya juga tidak berdasarkan kronologi
penurunan, akan tetapi penempatannya sesuai dengan instruksi Nabi sendiri.[9]
Menurut Az-Zarkasyi, memang
pada masa Nabi al-Qur`an tidak dituliskan dalam satumushaf, agar tidak
berubah pada setiap waktu, jadi penulisannya dilakukan kemudian sesudah
al-Qur`an selesai turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.[10] Pengumpulan (jam’u) al-Qur`an
pada masa Nabi ini dinamakan dengan hifdzan (hafalan),
sebagaimana pada tahapan pertama tulisan ini; dan kitabatan (pencatatan/penulisan/pembukuan)
yang pertama.[11]
Beberapa karakter proses
pemeliharaan al-Qur`an dan hasil yang diperoleh pada masa Nabi dalam bentuk
pencatatan dan pembukuan, antara lain:
1. Penulisan al-Qur`an dilakukan ketika wahyu turun.
2. Penyusunan urutan ayat-ayat dalam surat-surat
sesuai petunjuk Nabi
3. Ayat-ayat tertulis secara terpisah pada
kepingan-kepingan, tulang, pelepah kurma, batu-batu, dan sebagainya.[12]
4. Al-Qur`an tidak dalam bentuk mushaf
5. Tidak adanya tanda baca dan simbol-simbol lainnya.
c. Tahapan penghimpunan/pembukuan
Pada masa Abu Bakar yang
mengalami berbagai peristiwa dan gejolak, baik secara internal dalam masyarakat
Islam sendiri atau dari ekternal. Perang Yamamah yang terjadi tahun 12 H
menyebabkan gugurnya 70 qari dari sahabat gugur. Umar bin
Khattab merasa khawatir dan mengusulkan ke Abu Bakar agar mengumpulkan dan
membukukan al-Qur`an, karena dikuatirkan akan musnah. Mulanya sang khalifah
sempat bimbang karena hal ini tak pernah diperintahkan Rasulullah SAW secara
langsung, namun akhirnya beliau menyetujuinya.[13]
Abu Bakar memerintahkan
seorang sahabat yang memiliki kedudukan yang mulia dalam hal qiraat,
hafalan, penulisan dan pemahamannya terhadap Qur`an untuk memimpin proyek
penting ini. Langkah ini disetujui oleh semua sahabat Nabi yang hidup pada masa
itu. Kemudian tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Sabit mulai bekerja,
mereka kumpulkan tulisan-tulisan ayat‐ayat Qur`an yang terpencar‐pencar dari tulang‐tulang, pelepah kurma, kepingan-kepingan batu dan
mereka juga ambil dari para penghafal‐penghafal Qur`an. Kehati‐hatian Zaid sangat nyata terbukti dari
bahwa ia tidak mau menerima dari seseorang mengenai Qur`an sebelum
disaksikan oleh dua orang saksi. Ada juga ilmuan yang berpendapat
bahwa Zaid hanya menerima Qur`an apabila orang itu memiliki catatan dan juga
telah menghapal apa yang ia catat tersebut. Zaid bin Sabit sebenarnya adalah
juga seorang penghapal tapi hal ini tidak mengurangi kehati‐hatian dan kecermatannya ia melakukan pengumpulan
Qur`an dari semua orang yang memiliki catatan dan menghafalnya. Pada masa ini
Qur`an telah dikumpulkan ke dalam bentuk buku dengan tertib susunan yang
diperintahkan Rasul SAW dan mencakup ketujuh huruf yang mana Qur`an diturunkan.
Pada masa Abu Bakar ra inilah lahir istilah mushaf.[14]
Beberapa karakter proses
dan hasil yang dilakukan Abu Bakar, yaitu:
1. Faktor yang mendorongnya karena takut
sebagiaayat-ayat al-Qur`an akan hilang kalau tak dihimpun dalam satu mushaf.[15]
3. Al-Qur`an dalam bentuk mushaf
4. Al-Qur`an dalam 7 corak dialek.
5. Mushaf tersusun menurut tertib ayat
6. Ayat al-Qur`an disusun menurut urutan turunnya
wahyu.
d. Tahapan penggandaan
Seperti yang kita ketahui,
al-Qur`an dikumpulkan di masa khalifah Abu Bakar ra dalam ketujuh hurufnya dan
ternyata di masa khalifah Usman r.a hal itu menimbulkan masalah. Ketika wilayah
Islam semakin luas dan jumlah pemeluk agama ini juga kian pesat, mulai banyak
yang tidak memahami hakikat tujuh huruf ini dengan baik sehingga ketika guru‐guru qari mereka mengajarkan cara baca al-Qur`an
dengan satu dari tujuh huruf mereka menyangka cara baca itulah yang benar lalu
ketika mereka menjumpai orang lain membaca al-Qur`an bukan dengan cara baca
yang mereka pakai, timbul pertikaian oleh sebab cara baca yang berbeda itu. Hal
tersebut menimbulkan kecemasan dan usul yang dikemukakan secara resmi oleh
sahabat Huzdaifah kepada khalifah Ustman dan para sahabat lainnya.[18]
Ustman kemudian mengutus
utusan kepada Hafsah agar meminjamkan mushaf Abu Bakar untuk
menyalin dan memperbanyaknya namun dengan perintah khusus yaitu agar menuliskan
ke dalam satu cara baca saja yaitu dalam dialeg Quraisy dan membuang keenam
huruf (cara baca) lainnya.[19]
Khalifah Ustman
memerintahkan Zaid bin sabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin ‘Ash dan
Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk melakukannya. Mereka melaksanakan
perintah itu. Setelah selesai menyalinnya menjadi mushaf, Usman
mengembalikan lembahan-lembaran asli (orisinil) itu kepada Hafshah. Selanjutnya
Usman mengirimkan mushaf baru tersebut ke setiap wilayah dan
memerintahkan agar semua al-Qur`an atau mushaf lainnya
dibakar.[20]
Terdapat perbedaan diantara
para ilmuan tentang jumlah mushaf yang ditulis Usman.
Mayoritas ilmuan mengatakan sebanyak empat buah, masing-masing ke Kufah,
Bashrah dan Syria, semetara satu lagi disimpan Usman.
Beberapa karakter proses
kerja dan hasil dalam bentuk al-Qur`an dari tim bentukan Khalifah Usman, yaitu
:
1. Didorong oleh karena timbulnya perselisihan di
kalangan orang Islam mengenai versi bacaan (qira`at).[21]
3. Al-Qur`an dalam bentuk mushaf, yang disebut
dengan mushaf Usmani (Rasm Usman) atau mushaf Imam
4. Al-Qu`an ditulis seluruhnya berdasarkan riwayat
mutawatir
5. Surat dan ayat disusun dengan tertib.
6. Berbentuk satu corak dialeg (qira`ah)
e. Tahapan penyempurnaan
Sebagai hasil yang telah
dilakukan oleh tim yang dibentuk Khalifah Usman, dimana al-Qur`an yang belum
memiliki dan baca dan simbol-simbol lainnya. Dengan kondisi uamt Islam yang
semakin banyak dengan wilayah yang semakin luas, tentu menimbulkan berbagai
ekses. Atas instruksi Ali bin Abi Thalib, Abu al-Aswad al-Duwali mengambil
inisiataif untuk menyempurnakan penulisan al-Qur`an, dengan memberikan
tanda-tanda baca dan simbol-simbol lainnya.[24]
Seiring dengan perjalan
sejarah yang semakin luas simbol-simbol ini terus berkembang dari bentuk yang
sederhana berupa titik satu di atas untuk sebagai kasrah, menjadi bentuk garis
seperti sekarang ini. Para ilmuan terus berupaya menyempurnakan penulisannya
ini sehingga sangat memudahkan bagi pembaca bagi otrang Arba dan non Arab.
Nama-nama surat dan bilangan ayat serta tanda waqaf diletakkan di tempatnya,[25] mengahsilkan
yang mushaf yang refresentatif untuk semua kalangan di
kemudian hari.
f. Tahapan pencetakan
Proses selanjutnya dalam
rangka pemeliharaan al-Qur`an diupayakan seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dengan ditemukan mesin cetak al-Qur`an pertama
sekali dicetak abad ke 17 atau tepatnya tahun 1694 di kota Hamburg, Jerman.
Percetakan atas prakarsa Islam dicetak pada tahun 1787 di St. Petersburg,
Rusia, lalu disusul di Kazan (1828), Persia, Istambul (1877). Edisi cetakan
terlengkap dan dinilai paling standar ialah edisi Mesir, yang dicetak pada
tahun 1344 H/1925 M.[26]
Untuk menjaga keautentikan
al-Qur`an, negara dan pemerintahan yang sudah berdiri sendiri setelah
membebaskan diri dari penjajahan dunia Barat yang mayoritas penduduknya
beragama Islam, membentuk panitia atau tim yang bertugas mentashhih setiap
cetakan al-Qur`an. Indonesia sendiri dalam hal ini sangat konsisten dengan
kepanitiaan ini, bahkan sejak setengah abad yang lalu sudah melakukan kegiatan
pentashhihan al-Qur`an.
g. Tahapan pembelajaran
Inilah sebagai tahapan yang
sangat menentukan dalam pemeliharaan al-Qur`an, yakni mempelajari dan mendalami
al-Qur`an itu sendiri dengan proses pendidikan dan pembelajaran. Ini sangat
menentukan dalam pemeliharaan al-Qur`an secara umum sehingga al-Qur`an sepanjang
masa tetap menjiwai umat dalam kehidupan.
3.
Ilham
Kata ilham berasal dari kata yang
berarti menelan. Keika berubah kewazan if’al, yaknialhma yulhimu ilhaman, maka
kata ilham bermakna menelan dalam artimenghujamkan ke dalam jiwa, Allah
berfirman;
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya.(QS. Asy-Syams : 8)
Muhammad Rasyid Ridha dalam Al-Wahyul
Muhammadi memberikan pengertian, bahwa ilham adalah suatu perasaan emosional
yang diyakini oleh jiwa yang karnanya jiwa itu terdorong untuk melakukan yang
dikehendakinya oleh dorongan ilham itu, tanpa disertai kesadaran jiwa sendiri
dari mana datangnya, keadaannya hamper sama dengan persaan lapar, dahaga,
sedih, senang dan sebagainya.
a. Persamaan
dan perbedaan Wahyu dengan Ilham
Persamaan wahyu
dengan ilham
a) Keduanya
sama-sama diterima oleh manusia
b) Keduanya
sama-sama menimbulkan pemahaman dalam batin
c) Keduanya
sama-sama menimbulkan keyakinan
d) Keduanya
tidak diberikan pada makhluk binatang
e) Keduanya
sama-sama diberikan demi kemaslahatan
f) Keduanya
sama-sama merupakan pemberian Allah SWT
Perbedaan wahyu
dengan ilham
a) wahyu
datangnya melalui kehadiran malaikat sedangkan ilham melalui penghunjaman
langsung oleh allah kepada yang di kehendakinya
b) wahyu
diterima oleh manusia pilihan allah yang mengemban tugas kenabian atau
kerosulan ,sedang ilham dapat di terima oleh siapapun, baik pada waktu pintu
kenabian belum tertutup maupun setelahnya
c) wahyu
diturunkan dengan tujuan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia atau umat
tertentu, sedangkan ilham hanya untuk kemaslahatan yang menerimanya dan tidak
di bebani kewajiban untuk manyampaikan pada orang lain
d) wahyu
tidak dapat diminta kepada Allah agar di turunkan pada waktu tertentu
,sedangkan ilham menurut sebagian ulama dapat dim inta kepada Allah melalui
cara membersihkan diri dan memprbanyak taqorub pada Allah
e) wahyu
pintunya telah tertutup, bersamaan tugas kenabian yang di emban nabi Muhammad
SAW berakhir, sedangkan ilham pintuinya masih terbuka selama masih ada manusia
dan berlaku sepanjang masa
[6] Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jiidl. ii, ed. ii,
cet. i, (Jakarta: UI Press, 1985), hal. 4